Simbah

Sekali pun saya ternyata belum pernah membahas simbah. Kecuali di facebook, di limited audiences. Cuman sebatas keluarga saja yang bisa akses. Well, simbah adalah salah satu orang yang hebat dalam kehidupan saya.

Saya sudah hidup bersama simbah sejak kelas 3 SD. Sewaktu mas saya lulus STM dan pindah Jekardah untuk mengadu nasib, simbah mulai kesepian dan akhirnya meminta satu anak mamak buat 'kae-kae' (Bahasa Jawa ala simbah untuk 'disuruh-suruh/ membantu simbah mengambilkan sesuatu'). Yah, mungkin karena saya di rumah waktu itu sudah mulai menghabiskan makanan, makanya sama mamak yasud. Deal!

Solo Traveller


Jomblo traveller? Hush. Tidak boleh bilang status. Itu hak asasi lho. Ntar kena semprit satpam, terlepas itu fakta atau bukan. Lagian, istilahnya juga bukan itu. Orang yang kemana-mana sendiri, kerennya disebut solo traveller.

Terus Kita Itu Apa..


Ini adalah cerita hari Minggu, Mei 17, 2015. Dua hari pertama tanggal tua. Iya, tanggal tua. Mendengarnya saja sudah bikin sedih. Jadi, saya sebenernya tidak berencana kemana-mana, tapi sore hari sebelumnya, dapet info jika ponakan ulang tahun. Ah, yasud. Hitung-hitung sebagai penggembira. Siapa tahu juga nanti ada sisa makanan yang sayang jika dianggurkan.

Persiapan pulang tidak ada. Cukup bermodalkan niat, pengen hunting sunrise dan motor pinjaman. Yah, saya mah gitu orangnya. Kan belum punya motor sendiri. Kan bisa gonta-ganti motor, semacam horang kayah. Kan motor tetangga lebih asyik. Kan ada yang mau dipinjem, yang jelas *LOL*

Jadilah terlaksana, hunting sunrise di sepanjang areal persawahan di jalan shortcut. Dan sayangnya berangkatnya kepagian -_- The sun hadn’t even showed up yet, but at least, I found some nice spots. Ya.. terpaksanya, melanjutkan perjalanan sambil menikmati dinginnya pagi. Sepertinya sudah masa transisi musim kemarau. Duingin! Dan hidungku bocor. Untung memakai masker. Gak kelihatan meler dari luar nyahahaha XD (percuma saja sih, cerita di sini juga).