Terus Kita Itu Apa..


Ini adalah cerita hari Minggu, Mei 17, 2015. Dua hari pertama tanggal tua. Iya, tanggal tua. Mendengarnya saja sudah bikin sedih. Jadi, saya sebenernya tidak berencana kemana-mana, tapi sore hari sebelumnya, dapet info jika ponakan ulang tahun. Ah, yasud. Hitung-hitung sebagai penggembira. Siapa tahu juga nanti ada sisa makanan yang sayang jika dianggurkan.

Persiapan pulang tidak ada. Cukup bermodalkan niat, pengen hunting sunrise dan motor pinjaman. Yah, saya mah gitu orangnya. Kan belum punya motor sendiri. Kan bisa gonta-ganti motor, semacam horang kayah. Kan motor tetangga lebih asyik. Kan ada yang mau dipinjem, yang jelas *LOL*

Jadilah terlaksana, hunting sunrise di sepanjang areal persawahan di jalan shortcut. Dan sayangnya berangkatnya kepagian -_- The sun hadn’t even showed up yet, but at least, I found some nice spots. Ya.. terpaksanya, melanjutkan perjalanan sambil menikmati dinginnya pagi. Sepertinya sudah masa transisi musim kemarau. Duingin! Dan hidungku bocor. Untung memakai masker. Gak kelihatan meler dari luar nyahahaha XD (percuma saja sih, cerita di sini juga).

Sepatu



Jum'at, 24 April 2015
Ini bukan semacam lagunya Tulus. Sepatu. Tapi ini berbicara benar-benar mengenai sepatu. Alarm saya tetiba mengagetkan saya jam 7.30. Terlalu malas rasanya untuk bangun. Entah karena khilaf tertidur setelah sholat atau gimana. Bila dilebaikan, mungkin saat itu adalah saat terberat bagi saya. Perang melawan kemalasan. Saya waktu itu berdebat dengan nurani, bergumul dengan kenikmatan kasur yang tiada tara. Dan saya menang, setelah kurang lebih 15 menit. Entah setan apa yang masuk tadi, sehingga saya balik berbaring setelah sholat subuh. Sangat memalukan. Seperti biasa, saya perlu segelas susu hangat di pagi hari. Dengan tampang khas bangun tidur dan masih berusaha mengibaskan sisa sisa malas yang masih terus menjadi oposisi dalam otak saya, saya mengambil gelas dan korek, lalu..

What makes me cry

Ada banyak hal untuk membuat seseorang menangis. Dan saya pun begitu. Mengantuk pun saya menangis. Ya, saya tidak akan malu mengakui bahwa saya bisa menangis dengan mudah. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan dengan seorang cowok yang menangis. Justru, ketika seorang cowok menangis, itu sangat berarti (kecuali tangisan saya yang gegara mengantuk) dan biasanya ada latar belakang yang cukup kuat yang membuat mengapa dia menangis, dibandingkan tangisan aktris galau yang diputus cinta.